Ternyata Ada Adu Gengsi Pasukan Elite di Musibah Sukhoi

Senin, 14 Mei 2012

"Beberapa personel tim Pencarian dan Penyelamatan (SAR), merasakan keganjilan dalam musibah jatuhnya Sukhoi."
BOGOR - "Saya kira kekuatan tim SAR sudah cukup, jumlahnya ada 2.063 orang. Alat dan teknologi kita juga cukup. Tinggal persoalan susahnya medan dan faktor cuaca. Jadi tidak perlu bantuan Rusia untuk evakuasi korban."
 
Demikian kata Gubernur Jawa Barat.
Ahmad Heryawan saat mendatangi lapangan transit evakuasi korban Sukhoi Superjet 100 di lapangan bola SMP Negeri 1 Cijeruk, Desa Cipelang, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor, Sabtu (12/5/2012) pagi.

Berbeda dari asumsi gubernur, beberapa personel tim Pencarian dan Penyelamatan (SAR), merasakan keganjilan dalam musibah jatuhnya Sukhoi pengangkut 47 penumpang (termasuk kru pesawat), Rabu lalu.

Keganjilan yang mereka rasakan menyangkut lambannya evakuasi. Lokasi kejadian dan serpihan bangkai  pesawat sudah terlihat sejak Kamis pagi, namun evakuasi baru dapat dilakukan Sabtu, atau hari keempat dari kejadian.

Keanehan-keanehan pun kian terasa di lapangan setelah mendengarkan diskusi-perdebatan tim SAR yang terdiri atas berbagai elemen, sipil maupun tentara menyangkut perintah yang terkesan lamban, bahkan menghalangi sebagian tim.

Kondisi ini setidaknya dikemukakan tiga anggota tim SAR yang berbeda kepada Tribunnews. Orang pertama dari Tim Sarnas. Menurut dia, ketika tim pertama berangkat hari Kamis dari Cidahu, mereka ditarik mundur. Hal yang dia sesalkan, kalaupun dalam perkembangannya ditemukan rute lebih pendek, dan waktu tempuh lebih cepat, biarlah tim yang berangkat lebih awal jalan terus ke titik lokasi.

Orang kedua seorang pencinta alam dan pemanjat tebing. Menurut dia, pencinta alam sudah sering keluar masuk hutan, dan bergelantungan di tebing-tebing Gunung Salak, mereka kurang diperhatikan. Tempat dan akses tidak diberi.

Orang ketiga, anggota Paskhas TNI AU yang merasakan keganjilan dalam hal perintah dilapangan. Satu tim Paskhas sejak Kamis diterjunkan merintis jalan. Dan Jumat pagi, mereka sudah berada dekat lokasi. 

"Mangkel banget. Sebal. Kami suah dekat, sudah melihat puing-puing pesawat, eh malah ditarik mundur. Mestinya tetap maju, walaupun tim lain menyusul," ujar seorang anggota Paskhas yang berkerumun dengan timnya.

Anggota Paskhas lainnya menyesalkan perintah penarikan tim yang sudah lebih dulu tiba di dekat lokasi, digantikan tim yang belakangan datang. Perintah itu dari pengendali wilayah, bukan TNI AU.

Indikasi adanya persaingan antarkesatuan, kata dia, terlihat dari komando di lapangan. Untuk tim SAR darat berada di bawah komando TNI Angkatan Darat. Selaku penguasa wilayah di lokasi kejadian, komando tim pencaria dan evakuasi langsung dipimpin Komandan Resort Militer 061/Suryakencana Kolonel Infanteri AM Putranto, dan koordinator lapangan Komadan Kodim Bogor.

Pimpinan TNI AD disebut memprioritaskan pasukan AD yang lebih duluan tiba di lokasi. Maka itu, klaim Komando Pasukan Khusus menjadi tim pertama tiba di lokasi pun muncul. Walaupun ada klaim lain yang menyebut, Marinir TNI Angkatan Laut bersama mahasiswa pencinta alam dari Universitas Indonesia.

Aroma penguat adanya adu gengsi, ketika satu unit Para Komando Grup-1 Kopassus dari Serang, Banten, beranggotakan enam orang hendak diterjunkan sebagai tim panjat terbing. Mereka diperkuat 6 orang dari Federasi Panjat Tebing Indonesia. Ternyata yang diangkut heli Paskhas hanya sepertiga, dua orang anggota Kopassus dan dua pepanjat tebing kaliber dua dari FPTI

"Kami datang ke sini atas undangan Basarnas. Karena melihat kecuraman tebing, para pemanjat tebing dilibatkan untuk rescue korban yang berserakan di tebing," kata Deveri, kru rescuer dari FPTI.

Seorang anggota FPTI menandaskan mereka 'korban' persaingan itu. Menurut dia, Paskhas tidak begitu tertarik menerjunkan tim Kopassus dari pesawat AU.

Namun dugaan kejanggalan dan tarik-menarik kepentingan itu ditampik pimpinan AD dan AU, di lapangan.
"Tidak ada yang ditarik. Siapa bilang itu?" ujar Panglima Kodam III/Siliwangi Mayor Jenderal TNI Sonny Widjaya kepada Tribunnews.com di lapangan darurat evakuasi di Cijeruk Sabtu siang lalu.

Bantahan senada dikemukakan Komandan Landasan Udara Atang Sendjaya Marsekal Pertama Tabri Santoso. "Tidak ada itu, tidak ada. Siapa bilang," kata dia saat ditanyai Tribunnews.com tentang persaingan antarkesatuan TNI terkait musibah.

Demikian juga soal adanya perintah dari pengendali lapangan kepada Pasukan Khas AU agar mundur dari tengah tugas padahal sudah dekat lokasi pesawat, dia menampik.

"Perintah ditarik bagaimana? Tidak ada perintah itu, Paskhas tetap terlibat," kata Tabri.

Tribun tidak dapat melanjutkan pertanyaan karena dihalangai seorang perwira menengah berpangkat kolonel. "Sudah... Sudah. Kamu ini dari tadi tanya-tanya soal penarikan," kata si perwira yang menyaksikan Tribun bertanya hal serupa kepada Gubernur Jabar Ahmad Heryawan dan Pangdam III/Siliwangi, beberapa jam sebelumnya.


0 komentar:

Poskan Komentar