Fenomena.. Saat Seks Tak Lagi Mengenal Cinta

Minggu, 20 Mei 2012

Ilustrasi semarak kehidupan malam di megapolitan. (Antara)
Jamak kita mendengar sebuah hubungan asmara berawal dari saling berbagi keluh kesah alias curhat.
Tak hanya bagi mereka yang masih single. Pun, ketika masing-masing sudah punya pacar atau suami/istri.

Cinta memang tak mengenal waktu. Ketika hati bicara, sirnalah segala logika  Rasa memang tak pernah salah. Begitupun cinta.  Tetapi hidup adalah pilihan. Keputusan mencintai seseorang adalah sebuah pilihan. Berikut dengan segala resikonya.  Baik atau buruk.

Seperti yang dialami Rosa.  Ia menjalin cinta dengan atasannya yang sudah beristri selama lima tahun. Bermula dari rutinitas dikantor dan interaksi yang intens antara keduanya, pasangan ini jatuh cinta.

Di mata Rosa, sang atasan adalah sosok yang mengayomi dan mampu menenangkan dirinya yang meledak-ledak.  Sempat berharap dinikahi, akhirnya Rosa harus merelakan sang pacarkembali ke pelukan istrinya.

Sakit hati? Tentu saja.Tetapi, itulah resiko mencintai seseorang yang tak lajang lagi. Kala itu, Rosa bukannya tidak tahu akan dihadapkan pada situasi sulit jika  sang pacar memilih keluarganya. Tapi itulah jalan cinta yang dipilihnya.

Itu adalah cerita cinta. Lain lagi cerita Ferry dan Desi. Sama seperti Rosa dan atasannya, kedua anak manusiai ni bekerja di tempat yang sama. Kebetulan, rumah tinggal mereka tak begitu jauh. Jalan pulang yang searah membuat keduanya sering pulang bareng.

Lagi-lagi berawal dari curhat, keduanya menemukan chemistry. Bisa ditebak hubungan yang berlanjut ini kerap berakhir di ranjang. Tak jelas apakah keduanya saling cinta.Yang pasti pasangan ini adalah sex buddy (pasangan seks).

Cinta tak lagi penting bagi mereka. Berbagi tubuh dan kenikmatan seks sesaat sebelum menjadi istri dan suami yang baik di rumah masing-masing sudah membuat mereka nyaman sebagai pasangan.

Cerita tak berakhir sampai disitu. Masih ada cerita Roni, seorang pengusaha muda yang akrab dengan dunia malam metropolitan.  Ia mengaku segala macam kenikmatan seks yang ditawarkan Jakarta di malam hari sudah pernah dicicipinya.

Tentu saja tak ada cinta atau chemistry.  Baginya, yang berlaku hanyalah ada barang ada rupa. Untuk membeli semua kenikmatan itu, puluhan juta sanggup ia keluarkan.

Semua itu hanyalah sekelumit cerita soal kehidupan kaum urban di Jakarta. Mungkin, berlaku sama di kota-kota besar lain di Indonesia, bahkan di belahan bumi lainnya.

Begitukah gambaran umum kehidupan masyarakat kota besar? Hubungan seks tak lagi menjadi sesuatu yang sakral antara dua orang yang saling mencintai?

Henni Norita, seorang psikolog, menyebutkan memang telah terjadi pergeseran perilaku seksual dikalangan kaum urban. Satu yang menjadi penyebab adalah sikap permisif, kesibukan,kompetisi, kerasnya kehidupan kota yang berujung pada kualitas komunikasi antar pasangan.

Jam kerja yang panjang dan jarak rumah yang jauh dari kantor cukup membuat   seseorang kehilangan sebagian besar energinya ketika sampai rumah. Lelah dan lelah. Akhirnya, hubungan seks menjadi sesuatu yang rutin. Tak ada lagi sensasi atau pun gairah.

Lalu, apakah selingkuh bisa menjadi pembenaran saat memburuknya komunikasi antar pasangan suami istri atau saat tak ada cinta dan rasa ketika bercinta?  Rasanya tidak...

0 komentar:

Poskan Komentar