Tudaq Bala, Pasangan Selingkuh di Sulawesi Barat ini Dihanyutkan ke Laut

Sabtu, 28 April 2012

MAMUJU - Pasangan selingkuh warga Desa Sumare, Kecamatan Simboro, Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat ini harus menerima hukum adat. Mereka dihanyutkan ke laut, setelah sebelumnya diselesaikan secara hukum adat.
 
Tidak ada satupun warga setempat yang berani angkat bicara soal prosesi hukum adat ini. Namun dari pantauan di lapangan, pasangan selingkuh yang disebut-sebut berinisial Su dan Ud ini dianggap telah melanggar tatanan sosial dan hukum adat.

Ud adalah istri dari adik kandung Su. Keduanya ketahuan berselingkuh setelah Ud dipastikan hamil delapan bulan. Banyak rumor yang berkembang terkait perselingkuhan itu.

Salah satunya disebabkan oleh suami Ud yang terlalu lama melaut, sehingga membuka peluang perzinahan. Faktor ekonomi keluarga Ud menjadi penyebab lainnya.

Sekira pukul 07.30 WITA kemarin, warga Desa Sumare sudah ramai di tepi pantai. Mereka menjadi saksi pelaksanaan hukuman oleh tetua adat.

Sebelum hukuman dilakukan Pemangku Adat, Umar G, dan beberapa tetua adat lainya menggelar ritual Tudaq Bala atau Tolaq Bala. Dalam bahasa Indonesia berarti semacam pembersihan kampung.

Kemenyan dibakar dan doa-doa dipanjatkan. Permohonan mereka adalah agar Desa Sumare tidak terkena azab. Selang beberapa saat kemudian, mereka menyembelih seekor kambing dan ayam jantan.

Kemudian, sejumlah warga membuat rakit berukuran 1x1,5 meter berbahan gabus yang diikat sedemikian rupa dan dibawa ke tepi pantai. Rakit inilah yang dipakai untuk menjalankan hukum adat pada Su dan Ud.

Beberapa warga dilokasi saling berbisik. Mereka berpendapat bahwa hukum harus ditegakkan sebagai peringatan bagi warga lainnya. Atau bagi siapapun yang mencoba-coba melanggar norma sosial di Sumare.

Prosesi selanjutnya cukup membuat bulu kuduk berdiri. Warga dan tokoh adat menjemput pasangan mesum itu di rumah masing-masing. Tanpa ada perlawanan dari suami atau istri dan anak-anak mereka, keduanya digiring ke pantai. Dengan muka tertunduk, Su dan Ud langsung menuju rakit.

Mereka hanya membawa pakaian secukupnya. Sejenak Su dan Ud menengok ke darat. Menatap keluarga masing-masing dan perlahan menaiki rakit. Ud tidak mampu menahan tangisnya. Sementara Su pucat dan sesekali menghela nafas.

Riak gelombang langsung menyambut keduanya dan membasah sarung yang dikenakan. Salah seorang tokoh adat memegangi rakit agar tidak segera hanyut. Sebab masih ada satu prosesi lagi yang harus dilakukan.

Dari balik kerumunan warga, seorang tokoh adat muncul. Dengan menggenggam gunting, dia menghampiri Su dan Ud yang sudah duduk di atas rakit. Pertama, dia mengelus rambut Ud. Kemudian menggunting beberapa helai rambut. Hal serupa dilakukan pada Su. Setelah berdoa, rakit didorong ke laut. Su dan Ud nampak bergegas membuang sarung dan baju ke laut.

Ada warga yang berpendapat bahwa keduanya berusaha mengurangi beban rakit. Namun salah seorang tokoh adat mengatakan, mereka melakukan ritual membuang 'kotoran'.

Seluruh mata warga Sumare tertuju ke rakit. Dan tiba-tiba seorang tokoh adat berdiri. Dengan suara lantang dia mempersilahkan warga yang ingin menyelamatkan Su dan Ud. Tidak cukup satu detik, seorang warga langsung terjun ke laut dan menarik rakit itu ke tepi pantai.

Su dan Ud lesu, tidak berkata-kata saat menjejakkan kakinya kembali ke daratan. Sementara itu, suara riuh cemoohan dari warga memenuhi pantai Sumare.

Pesan penting dari prosesi ini bukan pada bentuk hukumannya. Tapi lebih kepada menghargai norma sosial dan agama. Seperti Su dan Ud yang harus menanggung malu dan takut luar biasa akibat perbuatannya.

0 komentar:

Poskan Komentar