25% Perempuan Salah Diagnosis Penyakit Setelah Tanya "Dokter Google"

Rabu, 18 April 2012

Banyak wanita yang mencari jawaban di internet, karena masalah yang dianggap memalukan.
Internet memang menjadi wadah yang menampung berbagai informasi, termasuk informasi kesehatan. Tapi, ternyata banyak salah diagnosis yang disebabkan salah informasi dari internet.

Menurut sebuah studi terbaru, satu dari empat wanita Inggris diketahui salah mendiagnosis diri mereka di internet. Para wanita yang punya masalah kesehatan, kata para peneliti,  ternyata dua kali lebih memilih jalur online untuk mencari saran atas masalah penyakit mereka dibandingkan bertanya ke dokter, teman, atau bahkan ibu mereka. Apalagi untuk isu kesehatan yang berpotensi menimbulkan rasa malu bagi mereka.

Apa yang ditemukan para wanita sehingga mereka terlalu malu untuk mengatakan masalah mereka?

Sayangnya, apa pun yang berkaitan dengan masalah kesehatan perempuan tampaknya membuat takut dan menjadikan sebagian besar perempuan tidak meminta bantuan. Menurut riset ini, jika hal ini benar terjadi pada wanita Inggris, kemungkinan juga terjadi pada wanita di negara lain.

Salah diagnosis diri di sini termasuk kanker payudara atau kanker lain, sariawan, tekanan darah tinggi, asma, encok, depresi, diabetes, masalah kelenjar, dan masalah kesehatan seksual.

Gejala umum digunakan untuk salah mendiagnosis beberapa hal termasuk masalah tidur, sakit kepala, depresi, kecemasan, kejang otot, kram perut, nyeri otot kronis, kelelahan berat, sensitivitas kulit, dan gatal.

Secara umum, salah diagnosis diri sendiri bisa serius bila menunda pengobatan untuk penyakit yang masih tanda tanya, subjek eksperimen medis terhadap efek samping yang tidak menyenangkan dari pengobatan yang tidak tepat, atau bahkan gejala menutupi dari kondisi yang benar-benar membutuhkan perhatian.

Penelitian khusus ini dilakukan oleh perusahaan Inggris, BalanceActiv, untuk meningkatkan kesadaran bakteri Vaginosis. Jika tidak diobati, bakteri ini membawa peningkatan risiko penyakit radang panggul, yang dapat menyebabkan kesuburan berkurang, risiko tinggi tertular IMS (Infeksi Menular Seksual) termasuk HIV, dan awal persalinan dan kelahiran prematur jika ada selama kehamilan.

"Ada kecenderungan peningkatan ke arah penggunaan internet untuk mendiagnosa setiap penyimpangan atau kekhawatiran kita tentang tubuh kita. Web memberikan kita banyak informasi yang berguna dalam mengurangi kekhawatiran kita sampai kita mampu mendapatkan saran yang tepat dari otoritas medis jika diperlukan," kata Juru bicara BalanceActiv, Penny McCormick seperti dikutip dari ZDnet.

"Namun hasilnya menunjukkan bagaimana mudahnya membuat kesalahan ketika mendiagnosis diri kita sendiri," lanjutnya.

Ironisnya, solusi yang diusulkan untuk menyelesaikan masalah 'tanya Dr Google' adalah BalanceActiv Symptom Checker, yang merupakan layanan diagnosis online.

Ada baiknya Anda dapat berkonsultasi ke apoteker, dokter kandungan, atau dokter umum.

VIVAnews

0 komentar:

Poskan Komentar