Isu Gerakan Jatuhkan SBY, Ilusi Pemimpin Minim Prestasi

Senin, 19 Maret 2012

 Direktur Setara Institute Hendardi
JAKARTA- Pernyataan Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono bahwa, memanfaatkan momentum kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM),
terdapat ada fenomena gerakan untuk menjatuhkan pemerintahan yang dipimpinnya sebelum 2014, adalah sebuah ilusi seorang pemimpin yang minim prestasi.

"Presiden SB Yudhoyono bukan takut lantaran kursi kepresidenannya yang terancam tapi dibayangi ketakutan menjelang akhir jabatannya karena selama dua periode memimpin tidak ada prestasi signifikan. Bahkan untuk sekadar menuntaskan kemelut di tubuh Partai Demokrat sekalipun, SBY membiarkannya berlarut-larut tanpa ketegasan, sehingga mengganggu kinerja pemerintahan," demikian pernyataan Ketua BP Setara Institute, Hendardi dalam siaran persnya.

Menurut Hendardi, berbagai argumentasi perihal kenaikan BBM sulit diterima oleh akal sehat masyarakat luas. Sementara Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang dijadikan penghibur bagi masyarakat, jelas bukanlah solusi cerdas mengatasi kemiskinan, karena kenaikan BBM selalu diikuti oleh kenaikan berbagai kebutuhan masyarakat dan jelas BLT tidak akan mencukupi.

"Alih-alih menyusun argumen logis dan solusi yang menyejahterakan rakyat, SBY sekali lagi hendak menyedot rasa iba publik seolah ada gerakan tidak konstitusional yang akan menjatuhkannya dari kursi kepresidenan dengan menggunakan isu kenaikan BBM. Padahal, sesungguhnya SBY untuk kesekian kalinya sedang meraup laba atau benefit politik dengan menaikkan BBM saat ini," jelas Hendardi.

"Serangan SBY terhadap kelompok-kelompok yang tidak jelas sosoknya, yang bermaksud menggulingkan presiden, jelas bukanlah komoditas politik bermutu. Apalagi konstruksi ketatanegaraan Indonesia saat ini amatlah rumit untuk menjatuhkan seorang presiden" tandasnya.

Dengan dukungan politik paling besar di parlemen dan modal politik sebagai presiden pilihan rakyat, SBY sebaiknya berkonsentrasi menuntaskan masa kepemimpinannya dengan kerja keras membangun prestasi dan legasi, dibanding dengan melemparkan isu-isu politik yang kontraproduktif.

 http://nasional.kompas.com

0 komentar:

Poskan Komentar