Fenomena 'Twitter Quitter", Semakin Banyak Selebriti Tinggalkan Twitter!

Senin, 26 Maret 2012

 Ashton Kutcher
Karena dimaki follower dan kecanduan

Semakin banyak selebriti meninggalkan Twitter, terutama setelah menerima caci-maki dari para follower mereka dan stress karena kecanduan media sosial itu, demikian hasil pantauan Telegraph.

Contoh yang paling fenomenal adalah Ashton Kutcher, tokoh Twitter dunia dengan lebih dari 9,9 juta follower. Mantan suami Demi Moore itu kini tidak lagi pernah men-tweet sendiri postingan di akun pribadinya. Ia menyerahkan Twitter-nya kepada sebuah tim profesional setelah sebuah tweet-nya menjerumuskan aktor itu ke pusaran kontroversi tentang fedofilia.

Saat itu Kutcher menulis di akunnya tentang Joe Paterno, pelatih american football yang dipecat dari jabatannya. Yang tidak diketahui Kutcher dan kemudian memicu kontroversi adalah Paterno dipecat karena melindungi rekannya yang diduga melakukan pelecehan seksual terhadap seorang bocah laki-laki.

Selain Kutcher, ada juga pemusik ulung John Mayer yang berhenti dari Twitter setahun lalu karena mengaku kecanduan media sosial itu. Ia meninggalkan empat juta follower untuk keluar dari rasa stress akibat kecanduan Twitter.

Bintang Inggris, Matt Lucas, adalah artis terakhir yang menginggalkan media sosial itu meski mempunyai lebih dari setengah juta follower. Ia keluar setelah seorang remaja menulis lelucon tentang kematian Kevin McGee, mantan partner Lucas yang gantung diri pada 2009.

Tidak hanya artis, bintang Manchester City juga telah berhenti menggunakan Twitter sejak beberapa pekan silam. Mantan pemain tim nasional Inggris, Stan Collymore juga tampak menelantarkan akunnya setelah seorang follower menerima 150 hingga 200 penghinaan dari para pengguna Twitter.

Meningkatnya jumlah 'Twitter Quitter" - sebutan untuk mereka yang meninggalkan media sosial itu - adalah sebuah langkah ironis karena media sosial itu sering diasosiasikan dengan tingkat ketenaran seseorang di dunia.

Twitter sendiri memang sering dikritik karena tidak menyediakan instrumen perlindungan terhadap segala bentuk caci maki di dunia maya. Meski telah menyatakan telah bersedia bekerja dengan berbagai negara untuk melakukan sensor sesuai dengan hukum yang berlaku di negara tersebut.

Twitter sendiri belum memberikan komentar atas fenomena ini.

0 komentar:

Poskan Komentar