5 Informasi Keliru Tentang Autisme

Senin, 26 Maret 2012

 
Anak dengan autisme berkembang seperti individu lain pada umumnya.
Sampai kini, autisme masih dipandang sebagai sebuah penyakit. Maka masih sering para individu autistik ini disebut “penderita”. Faktanya, mereka tidak sedang menderita.
Selain itu, masih banyak informasi keliru mengenai autisme, seperti yang terungkap dalam konferensi pers Yayasan Autisme Indonesia:
  • Keliru: Autisme disebabkan cara pengasuhan yang salah dari orangtua.
    Benar: Autisme BUKAN kondisi emosional ketika anak menjauh dari orangtua, tetapi akibat perkembangan neurobiologi di otak, BUKAN karena pola pengasuhan yang salah.

  • Keliru: Individu autistik tidak bisa merasakan dan menyalurkan emosi mereka, kecuali emosi marah atau senang.
    Benar: Individu autistik TIDAK kehilangan kemampuan untuk mempunyai hubungan emosional. Individu autistik bisa mengembangkan kepekaan emosional seperti individu lain pada umumnya.

  • Keliru: Semua indvidu autistik sebaiknya mengikuti terapi A atau B. Kalau tidak, maka kondisi autisme tersebut akan semakin parah.
    Benar: TIDAK ADA terapi yang bisa dipakai untuk memperbaiki SEMUA gejala pada SEMUA individu. Penanganan harus disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing, sehingga setiap individu tidak bisa ditangani secara sama rata.

  • Keliru: Setiap individu autistik pasti punya kemampuan khusus yang melebihi individu lain pada umumnya.
    Benar: Individu autistik TIDAK selalu mempunyai kemampuan jenius. Mereka berkembang seperti individu lain pada umumnya, dengan kecerdasan yang bervariasi, bakat yang berbeda, dan kesempatan yang tidak sama.

  • Keliru: Autisme adalah sebuah penyakit mental.
    Benar: Autisme BUKAN penyakit mental, dan penyandang autis TIDAK cacat mental.
    Sejak anak masih balita, keluarga dengan anak autistik sudah mengalami banyak kesulitan dalam kehidupan sehari-hari, salah satunya dalam bentuk penanganan dan pendidikan. Keluarga dengan anak autistik sangat mengharapkan lingkungan dan masyarakat dapat bersikap lebih empatik terhadap perjuangan mendapatkan kehidupan yang lebih baik bagi anaknya, memahami kesulitan mereka, sehingga tidak mengolok-olok atau menyalahkan orangtua bila individu autistik bersikap tidak seperti seharusnya.

0 komentar:

Poskan Komentar